Anyaman Mendong Kerajinan dari Tasikmalaya

anyaman-mendong

Anyaman merupakan salah satu produk kerjainan favorit orang Indonesia. Banyak orang memiliki produk anyaman seperti tas, sepatu, tikar, keranjang, tudung saji, hiasan rumah dan sebagainya. Akan tetapi, tahukah Anda akan keberadaan seni anyaman khas Tasikmalaya kini mulai bangkit setelah hampir punah? Itulah anyaman mendong, anyaman khas Tasikmalaya.

Seni anyaman sebenarnya termasuk salah satu kerajinan yang paling tua di dunia dan sudah dikenal dari jaman purbakala. Bangsa Melayu sendiri sudah mengenal seni anyaman sejak ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi, setiap daerah memiliki ciri khas seni anyaman sendiri. Tasikmalaya adalah salah satu contohnya.

Kabupaten Tasikmalaya sebenarnya sudah lama dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang sangat kaya akan usaha rakyat, termasuk usaha kerajinan. Anyaman mendong yang menggunakan bahan baku bambu halus pertama kali dikembangkan tahun 1890 oleh seorang petani dan pengrajin bernama Martadinata. Uniknya, anyaman bambu ini diciptakan setelah ia kehilangan kotal tempat tembakaunya sehingga ia mencoba membuat gantinya dari bambu.

Pemerintah Hindia Belanda menunjukkan perhatian pada kerajinan ini dengan mendorong Martadinata untuk menjadi guru dan menyebarkan ilmunya ke daerah luar Tasikmalaya, hingga ke Jawa Tengah. Selain itu, anyaman mendong dimasukkan dalam kurikulum di Sekolah Rendah di Tasikmalaya.  Sejak saat itu, kerajinan ini terus berkembang dan masih bertahan hingga saat ini.

Anyaman mendong berbeda dari kerajinan anyaman pada umumnya, yakni dibuat dari bambu halus sehingga kesannya lebih apik, anggun dan halus. Anyaman bambu halus ini merupakan pengembangan dari bentuk anyaman pertama yang dirintis oleh Martadinata.

Pada tahun 1962, pemerinta daerah Tasikmalaya sempat membuat suatu program pengadaan mesin pemotong bambu untuk menghasilkan pola potongan yang lebih tepat dan lebih halus. Sayangnya, hasilnya ternyata tidak sebagus kerja tangan manusia dan kurang efisien sehingga masyarakat Tasikmalaya kembali beralih ke metode tradisional.

Pada tahun 1990-an, kerajinan anyaman mendong sempat mengalami kemunduran karena adanya perhatian yang berat sebelah terhadap gerakan investasi dan perkembangan industri besar. Akibatnya,  industri kecil dan rumah tangga nyaris tersisihkan. Akan tetapi, seiring kebangkitan gerakan cinta tanah air, masyarakat mulai mencari dan mengembangkan kembali anyaman tradisional ini.

Produk Generik

Anyaman mendong Tasikmalaya diproduksi dalam dua jenis, yaitu anyaman dua dimensi dan anyaman tiga dimensi. Benda-benda yang dianyam pun sudah beraneka ragam, bukan lagi sekedar benda-benda untuk membantu kegiatan bertani.

Contoh anyaman dua dimensi yang bisa Anda temukan saat ini adalah tikar, penutup jendela, alas gelas, taplak meja dan alas panci. Sedangkan anyaman tiga dimensi contohnya adalah keranjang, kap lampu, sandal, sepatu, tas, kotak tisu, tempat sampah dan masih banyak lagi. 

Bahkan saat ini Anda bisa menemukan buku harian, pigura foto dan tempat majalah yang terbuat dari anyaman mendong. Kemajuan jaman, permintaan pasar dan invasi telah membuat para pengrajin semakin kreatif dalam menemukan ide benda-benda yang bisa dibuat.

Kerajinan anyaman mendong tidak memiliki filosofi khusus; pada dasarnya, apapun permintaan konsumen, maka itulah yang akan dibuat. Hal ini bisa dibilang dari sejarah penciptaan anyaman mendong lantaran Martadinata yang kehilangan barang miliknya dan mencoba membuat gantinya. Tidak mengherankan jika para pengrajin kreatif selalu menemukan jalan untuk menciptakan jenis-jenis barang yang unik dengan variasi berbagai warna. Pemasaran ke konsumen pun menjadi lebih fleksibel karena konsumen tidak terpaksa harus mengikuti pakem tertentu ketika memesan benda dari anyaman mendong asli Tasikmalaya.

Ciri Khas Tasikmalaya

Kini, anyaman mendong telah ditetapkan sebagai komoditas khas Kabupaten Tasikmalaya, dan disahkan dengan Surat Ketetapan Bupati Tasikmalaya nomor 522.4/189-LH/94 tahun 1994 mengenai Penetapan Flora dan Fauna Kompetitif dan Komparatif terkait pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, para pengrajin anyaman mendong memiliki dasar kuat untuk memajukan dan melestarikan kerajinan ini.

Untuk sentra produksinya sendiri, saat ini Kabupaten Tasikmalaya memiliki sentra-sentra produksi di 12 desa dan 4 kecamatan. Mulanya, sasaran pelanggan mereka adalah turis dan para keluarga terutama kaum wanita, karena banyak produknya juga terdiri dari aksesoris seperti sepatu, sandal dan tas. Namun belakangan, seiring perkembangan teknologi dan permintaan pasar, pengrajin mendong mendapat kemudahan baru dalam hal pemasaran dan promosi.

Saat ini, beberapa hotel dan penginapan lokal telah menjadikan sandal anyaman mendong sebagai sandal hotel untuk dipakai pengunjung, agar hotel tersebut memiliki ciri khas. Selain itu, banyak para pengrajin dan pemasar yang mulai menggunakan situs atau blog untuk memasarkan produk mereka. Dengan demikian, bukan hanya mereka bisa menjangkau lebih banyak target pembeli, namun juga bisa mendapat pelanggan dari luar Jawa bahkan luar negeri. Turis asing yang berkunjung ke Tasikmalaya pun bisa dengan mudah menemukan anyaman mendong, tidak harus pergi ke tempat-tempat khusus yang sulit dijangkau.

Harus diakui bahwa para pengrajin anyaman mendong harus bersaing keras dengan barang-barang dan aksesori impor atau buatan pabrik yang disukai masyarakat karena lebih praktis dan mudah didapat. Krisis ekonomi yang sempat melanda juga membuat pengrajin mendong menghadapi penurunan penghasilan. Namun, dengan kebangkitan gerakan cinta produk negeri sendiri dan perhatian pemerintah, kiranya anyaman mendong dapat terus dikenal dan tumbuh subur. (Putri Prihatini)

You may also like...

0 thoughts on “Anyaman Mendong Kerajinan dari Tasikmalaya”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<